Rabu, 25 Februari 2015

Elyana

"Iya sayang, lima menit lagi aku akan sampai". "Cepatlah sedikit, By". Sambungan terputus, dan aku belum sadar.

***
Elyana bilang aku ini lelaki yang menyebalkan, selalu terlambat datang saat kencan, dan teledor. "Aku juga mencintaimu, Hasbby". Aku selalu suka mimik muka Elyana saat berujar dia mencintaiku. Pipinya bersemu merah, dan bibirnya, membentuk lengkung senyum. Elyana cantik, aku tak bohong. Dia gadis yang ajaib, tahan menghadapi lelaki sepertiku.
***
"Temukan gadis lain yang lebih tahan menghadapi lelaki sepertimu, By". "Tapi, El". Dia memejam. Aku diam.

***
"Hasbby, kau akan terlambat lagi? Bahkan di kencan terakhir sebelum aku pergi ke Inggris?". "Iya sayang, lima menit lagi aku akan sampai". "Cepatlah sedikit, By". Sambungan terputus.

Aku sampai dalam waktu dua puluh menit. Elyana sudah tidak ada. "Mas...". Seseorang menyapaku.

***
Aku memacu motorku secepat yang aku bisa. Pejelasan singkat mbak-mbak yang tadi sudah cukup membuatku memiliki alasan untuk itu. Aku sampai di tempat tujuan, merapat menuju parkiran. Melangkah cepat melewati lorong-lorong. Langkah ku terhenti. "Elyana?" Aku kaku melihat Elyana, gadis yang ku cintai terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
***
"Temukan gadis lain yang lebih tahan menghadapi lelaki sepertimu, By". "Tapi, El". Dia memejam. Aku diam. Semuanya cemas, aku juga. "Maaf.." Dokter bilang dia tidak akan bangun lagi.

***
"Hasbby, kau akan terlambat lagi? Bahkan di kencan terakhir sebelum aku pergi ke Inggris?". "Iya sayang, lima menit lagi aku akan sampai". "Cepatlah sedikit, By". Sambungan terputus, dan aku sadar tak seharusnya aku datang terlambat.

Sumber: Google
Alunan kidung senja, menggema tak bersuara.
Segala sesal tak dapat ku ingkari keberadaannya. Gelap, sunyi menangis terluka.
Beribu dosa, terngiang mengalun. Bisa-bisanya aku tak sadar kau tengah dihinggapi parasit mematikan. Aku memang lelakimu yang payah.
"El, aku masih suka menatap kerling bola matamu, dalam potret yang ada di ponselku".

Pundakku ditepuk. "Ayah, ayo main bola sebelum bunda mengomel tentang maghrib yang sebentar lagi tiba".

Larasati-Tenggelam Ditelan Keabadian

Jumat, 20 Februari 2015

February

Ini adalah hal manis yang didapat di bulan ini. :')


  • Jadi salah satu kontributor di buku kumpulan cerita mini yang diterbitkan oleh penerbit ellunar. :')

Kamis, 19 Februari 2015

Siapa Namamu?

#1
Aku melihat dia. Di sana untuk yang pertama. Aku suka matanya, bibirnya. Raut wajahnya meneduhkan. Dia gadis pertama yang membuat detak jantungku tak terkendali bunyinya.

Di minggu berikutnya ku beranikan diriku untuk menyapanya. "Hi...!" Kataku. Dia hanya menoleh dan tersenyum. Aku sempurna beku. Saat itu dia menatapku lama. Lantas berkata "Ya?" Aku lari. Meninggalkan dia yang kebingungan sendiri.

Besoknya tak ku temui dia lagi di tempat biasa. Hatiku sesak. Harusnya tak ku siakan kesempatan kemarin. Apa kabar dia hari ini?

#2
Aku melihat dia. Di seberang sana. Karenanya aku menjadi sering berada di sini. Aku suka senyumnya. Senyumnya menyemangatiku. Dia lelaki pertama yang membuatku gila. Membuatku betah berlama-lama di tempat ini sendiri.

Di minggu berikutnya. Lelaki itu menyapaku. "Hi...!" Katanya. Aku kaget. Aku senang. Aku menoleh dan tersenyum padanya. Menatapnya lama karena tidak tahu harus berkata apa. Akhirnya ku katakan "Ya?" Dan kemudian dia lari. Aku kecewa. Dia kenapa?

#3
Di seberang jalan sana ada gaduh yang teramat gaduh. Orang-orang bergerombol di tengah jalan. Lelaki itu memutuskan untuk bertanya pada seorang. "Ada apa?" "Ada perempuan yang baru saja tertabrak" Lelaki itu tiba-tiba merasa sakit. Langkah kakinya perlahan menuju ke tengah kerumunan. Air matanya menetes dengan sendiri. Dia mengenali wajah seorang yang kini beku penuh darah. Perlahan bibirnya bergerak "Siapa namamu?"

#4
Gadis itu kini beku di tengah jalan sana. Dia menangis. "Aku tak akan bisa melihat lelaki itu beserta senyumnya" Dia menoleh, seperti mengenali bunyi langkah itu. Benar langkah lelakinya. Gadis itu riang bukan kepalang. "Setidaknya aku bisa melihat lelaki ini untuk yang terakhir. Eh, tunggu. Aku baru sadar saat menangis pun lelaki ini nampak tampan, ah.. siapa namamu?"

Kamis, 12 Februari 2015

[Lagi] Untuk, Semuaku


Selamat siang, bu.
Ku sempatkan menulis ini untuk ibu sebelum aku pergi bekerja. Iya, bu. Hari ini aku mendapat giliran untuk masuk siang.

Bu, aku rindu sekali. Apalah aku ini, baru juga selasa kemarin pulang ke rumah. Sekarang sudah main rindu lagi saja.

Ibu tahu sendirikan? Betapa aku tak pernah pisah dengan ibu. Sekalinya pisah, harus pisah sejauh ini. (Ya setidaknya menurutku jauh). Aku jadi harus menahan semuanya. Ibu pasti paham apa yang harus aku tahan. Melihat senyum ibu adalah salah satunya.

Bu, aku ingin menulis sepiring tentang ibu. Semoga ibu tidak marah.

Di mataku ibu itu baik, dan aku ingin baik seperti ibu. Ibu itu penyabar, dan aku ingin bisa sabar sesabar ibu. Ibu itu cantik, cantik dalam segala aspek, dan aku juga ingin cantik, cantik yang seperti ibu. Dan ya di mataku ibu teramat menyayangiku, dan aku selalu ingin menandingi itu, aku ingin menyanyangi ibu lebih. Apa aku bisa bu? Bu, sudahkah ini penuh sepiring?

Apa ibu marah aku hanya tahu sedikit saja tentang ibu? Bu?

Tuh kan ibu nangis. Ibu pasti kecewa.

Kuberi tahu rahasia ya, bu. Dan ibu harus janji tidak akan marah padaku.

"Aku sangat sayang, ibu..."


Kasihmu pelukku sejauh ini.
Doamu kuatkan aku, yang sendiri saja di sini.
Semoga ibu selalu baik di Kediri.

Surabaya, 13 Februari 2015
Untuk semuaku,
Ibu

Rabu, 04 Februari 2015

Hidup?

#1
Aku benci ibuku. Aku merasa dia tak menyanyangiku. Bagaimana bisa kusebut dia sayang? Kalau kerjanya hanya menitipkanku pada tante. Lalu pergi selama bertahun-tahun.

Aku benci ibuku. Aku tidak bisa mengerti segala hal tentangnya. Bagaimana bisa mengerti? Bersama saja aku tak pernah. Sekalinya dia pulang, aku tak mampu bertanya apapun, karena dia terasa begitu asing.

Aku benci ibuku. Karena aku tak bisa memeluknya bebas, sebebas temanku memeluk ibunya. Bagaimana bisa memeluk? Ditinggalnya lama membuat aku canggung jika berhadapan dengannya.

Aku benci ibuku. Tak pernah bisa aku bercerita banyak hal padanya. Bagaimana bisa cerita? Memandangnya saja aku takut.

Belasan tahun, aku benci ibuku.

#2
Aku cinta anakku. Aku yakin anakku juga demikian cinta padaku. Saking cintanya aku rela pergi jauh dari sisinya, menahan rindu, menahan segala. Menjadi TKW aku rela.

Aku cinta anakku. Segala hal tentangnya aku paham. Kakakku bererita banyak. Dia tumbuh menjadi gadis yang cantik. Tidak neko-neko seperti gadis-gadis lain di jaman ini.

Aku cinta anakku. Aku selalu ingin memeluknya. Membelai rambutnya. Selalu. Tapi kepergianku selama tahunan itu membuatnya sedikit menjauhiku. Jadi, aku hanya bisa memeluknya kala ia tertidur. Tidak apa itu sudah sangat cukup.

Aku cinta anakku. Aku selalu ingin mendengarkan segala bentuk hari-harinya. Tapi sayang dia tak pernah cerita. Untung saja dia selalu menulisnya di buku harian. Jadi aku bisa baca.

Seumur hidup, aku mencintai anakku.

#3
Aku ingin menulis keluhku lagi hari ini. Tapi aku menemui tulisan orang lain di buku harianku. Penanya warna biru. 

Ibu mencintaimu, peluk ibu jika kau ingin peluk. Bercerita saja jika ingin cerita. Ibu tidak akan kemana-mana. Ibu menunggumu.

Untuk; Semuaku

Aku belum pernah serindu ini kala ditinggalkanmu. Ya, menangis aku pernah, tapi tak sesesak ini merasa.
-Aku-

Dan ini aku mengaku. Ternyata jauh dari sisimu, serapuh ini aku. Ternyata tak memandang wajahmu sesakit ini merasa. Dan ternyata tak mendengar omelmu, aku, aku seperti kehilangan hal besar yang teramat besar.

Aku menangis. Aku tak malu mengakui ini. Jika ada tubuhmu di sini mungkin sudah sukses ku peluk. Seharian ini aku banyak diam. Hanya jemari yang bergerak-gerak mengambil helai-helai tisu. Maafkan aku tetap saja lemah.

Kepadamu aku cinta, secinta-cintanya. Oh, betapa juangmu tak ternilai. Biarkan, biarkan ku habiskan tangisku malam ini.

Dan ini aku berjanji. Membuatmu bahagia akan aku lakukan. Membuat diriku kuat sekuat inginmu. Membuat hatiku tangguh setangguh harapmu. Membuat esokku cerah secerah doa-doamu.

Dan ini sekali lagi aku mengaku. Memelukmu setiap waktu ingin aku lakukan.

Semuaku.
Betapa tanpamu
Aku tak bisa apa-apa
Betapa tanpamu
Semuanya terasa berat.

Semuaku.
Tunggu aku,
Meski ku tahu, tanpa surat perintah pun,
Kau akan setia menunggu.

Semuaku.
Juangku untukmu.
Hanya untukmu.

Semuaku.
Ibu.

Surabaya, 4 Februari 2015
Ku tulis ini untuk malaikat cantikku, Ibu.

Sabtu, 24 Januari 2015

Ia Yang Pulang Pagi


Pekikan wanita itu seratus kali lebih menyeramkan dari raungan serigala. Mendengarnya telingaku ngilu. Kakiku penasaran, melangkah sok berani menyusuri tempat gelap, arah pekikan itu berasal.

Aku dibuat bengong oleh seorang wanita. Dalam gelap, parasnya aduhai rupawan. Di bawah kakinya tergolek payah tiga lelaki tak berbusana. Mulutku jatuh menganga. Tiga lelaki digigitinya satu-satu. Tubuhku ikut ngilu, wanita itu mengigit penuh nafsu. Aku menelan ludah, oleh keringat, tubuhku basah.

"Dia manusia atau..?" Wanita itu menatap tajam arahku. Aku melongo. Sial, aku ketahuan. Kakiku beranacang-ancang akan lari. Gagal.

Wanita itu sudah berada di hadapku. Aku menatap matanya lekat-lekat. Dia melempar berlembar uang depan mukaku. "Ini uang untuk sekolahmu" Seketika aku beku. Aku kenal wanita ini. Wajahnya tak asing. Pelan mulutku terbuka "Ibu?? Jadi ini alasan di balik seringnya ia pulang pagi?" Aku menatap punggung ibuku yang semakin jauh, lenyap.

Tulisan ini diikut sertakan dalam Giveaway 100 Post di www.doddyrakhmat.com

Senin, 19 Januari 2015

Karma

Aku dan Deo jalan bersama, sepulang sekolah. Dia mengajakku nonton. Ah, aku tahu otaknya. Gedung bioskop itukan gelap. Tak akan ada seorangpun yang akan mengamati pergerakannya.

Film dimulai. 15 menit berlalu. Dan benar saja. Tangannya sudah meraba-raba genit pahaku kemudian menaik perlahan hingga kini dielus-elusnya pipiku. Ku diamkan saja. Apa aku tidak tergoda? Tentu saja tergoda. Siapa yang ingin melewatkan diperlakukan seperti ini oleh cowok super keren idaman cewek-cewek satu sekolahan.

***
"Kau manis sekali" bisiknya dekat telingaku. "Deo, apa kau sebegitu...." bibirku sukses dilumat olehnya. Sekujur tubuhku mengejang. Didorongnya tubuhku, hingga sukses terlentang di ranjang kosnya yang menurutku keras. Tapi itu tak penting lagi. Seragamku sudah tanggal semenjak tadi. Deo berhenti sebentar. Sibuk dengan resletingnya yang tak mau segara dibuka. Aku tertawa. "Sini biar ku bantu" Deo menjatuhkan tangannya. Memberiku kesempatan.

Dimanjakan aku oleh setiap sentuhnya. Jemarinya sungguh aku suka. Lidahnya menari-nari menyusuri setiap jengkal tubuhku. Kepadanya aku mengaku kalah. Ku biarkan Deo menguasai tubuhku hari ini. Desah kami beradu, kian menit kian keras. Deo sudah berteriak, itu tanda bahwa dia sudah sampai pada puncak. Dicumbunya bibirku sekali lagi. "Kau hebat membuatku selelah ini, istirahatlah akan ku antarkan pulang besok pagi"

***
Aku terkaget. Ada banyak orang di sekeliling ranjang. Mereka gaduh sekali hingga membuatku terbangun. "Apa aku ketahuan?" Aku ingin membangunkan Deo, tapi tubuhku tidak lagi bisa digerakkan. Aku ingin berteriak, tapi suaraku gagal keluar. Samar-samar aku mendengar, katanya "Hei lihat, dua remaja ini menjadi batu!!" "Pasti ini karma, karena mereka sudah melakukan hal yang jelas-jelas dilarang oleh Tuhannya"


🎵LARASATI-KARMA

Lelaki Pecemburu

Tan, menyeret bonekanya menuju belakang rumah. Wajahnya bungah. Terlihat dari tawanya. Dia bahagia sekali. Berbeda denganku. Melihat bonekanya saja tubuhku ngilu.

Disenderkan bonekanya pada pohon. Dipandanginya boneka itu sekali lagi. Setengah mati aku duduk keheranan. Mengamati polahnya yang sungguh tak karuan.

Aku hampir-hampir menjerit. Dilemparkannya boneka itu ke lubang. Bagaimana bisa? Setahuku itu boneka kesayangannya. Tan, tertawa. Sesaat kemudian, kacau tersungkur terisak-isak.

"Kenapa kau biarkan lelaki lain melingkari tubuh elokmu? Kau pikir aku tak tahu? Sumpah mati aku tak rela tubuhmu disentuh lelaki lain. Kini rasakanlah, ini pembalasan. Sengaja ku cincang tiap-tiap tubuhmu supaya tak lagi bisa disentuh lelaki lain"

Adaptasi bebas dari beberapa lirik; Pembalasan-Revenge The Fate

Sabtu, 17 Januari 2015

Liebster Award ^^ (Kali Pertama)



Eng... Sebenernya kaget gila, tiba-tiba dapat kabar bahwa aku masuk nominasi Liebster Award. Ya, gimana, ya. Aku mainan blog aja baru. Ngerti seluk beluk ngeblog juga sedikit. Muehehe. Jadi ya mana ngerti soal Liebster Award macam begini. 

Tapi setelah menimbang-nimbang selama dua tahun, eh, dua hari. Akhirnya barulah aku paham apa itu Liebster Award. Ya, ini juga hasil ngubek-ngubek postingannya mbak Risma S. Putri sih. Muehehe.

Katanya Liebster Award itu seperti penghargaan yang kita berikan kepada teman sesama blogger. Ya, tujuannya untuk mencari jodoh. Eh, salah. Untuk mempererat pertemanan sesama blogger. Dan untuk apa lagi ya? Banyak manfaatnya sepertinya. Seperti semakin mengenal aku misalnya. *Duh*

Dan ya, karena aku baru mendapat Liebster Award ini, aku harus menyelesaikan semua ritual atau aturan mainnya. Diantaranya:

  1. Buat postingan mengenai Liebster Award yang berisi pengertian Liebster Award, menampilkan logo Liebster Award beserta info mengenai Liebster Award.
  2. Ucapan terima kasih pada teman blogger yang telah memberikan award.
  3. Sebutkan 11 hal mengenai diri atau pribadi kita.
  4. Jawab 11 pertanyaan dari pemberi Award.
  5. Pilih 11 teman blogger untuk menjawab pertanyaan dari kita.
  6. Tunggu balasan dari teman blogger yang sudah kita pilih.

Ritual nomor 1 sudah beres ya. Sisa ritual nomor 2 sampai 6. Baiklah kita mulai saja ritual selanjutnya.

---memasuki ritual nomor 2--

Bentar, pasang muka imut dulu- Waaa!!! Mbak Risma terimakasih sekali sudah berbaik hati memberi kesempatan pada blogger junior seperti aku ini untuk masuk nominasi Liebster Award.  (o^^)o

---memasuki ritual nomor 3---

  1. Nama yang tertera pada Akta Nikah, eh, Akta Lahir sih Nilam Vembika Berliani.
  2. Pas TK jadi bahan bullyan temen-temennya.
  3. Pas kelas 4 pernah naksir monyet sama kakak kelasnya, dan ditolak (tragis, iya).
  4. Baru ulang tahun yang ke-18.
  5. Baru lulus SMA.
  6. Keranjingan buku.
  7. Jatuh cinta sama Messi. 
  8. Penyanyi kamar mandi. Mandi itu butuh waktu paling sedikit 30 menit. 7 menit mandi, sisanya nyanyi.
  9. Suka histeris sendiri kalo baca tulisan yang kereeeeeeeeennnnnnn bangeeeetttt. Apalagi yang fiksi.
  10. Apa lagi ya?
  11. Udah itu aja.

---memasuki ritual nomor 4--

*soal UTS yang harus dijawab*

  1. Lebih suka membaca novel atau kumpulan cerita? ((Novel.))
  2. Apakah kamu suka membuat puisi? Kalo iya, berikan alasannya! ((Engga sih, lebih suka dibikinin puisi sih sebenernya. Muehehe.))
  3. Kamu penikmat kopi atau teh? ((Es cream, ngga ada?))
  4. Apa manfaat ngeblog menurut kamu? ((Apaya? Hayalan gilaku jadi tidak terbuang sia-sia.))
  5. Seberapa sering kamu melakukan blog walking? ((Tanya dulu seberapa sering aku good mood. Muehehehe.))
  6. Apakah kamu termasuk orang yang eksis di socmed? berikan alasan! ((Sepertinya tidak terlalu. Karena tidak banyak orang yang kenal aku.))
  7. Berapa banyak sahabat yang kamu punya? ((Empat))
  8. Kamu, lebih sering curhat atau jadi tempat curhat? ((Tempat curhat. Eh, iya sih pendiam aku anaknya. Aww!!))
  9. Apa hal yang paling membanggakan buat hidup kamu? ((Apa ya..??))
  10. Ada tidak, postingan yang kamu sukai di blog saya? Jika ada, sebutkan dan beri alasan! ((Waahh sebentar ya aku lahap dulu seluruh postingannya. Muehehe.))
  11. Apakah kamu senang telah terpilih menjadi nominasi di Liebster Award ini? ((Lebih condong kekaget sih, tapi senang dongs ↖(^▽^)↗))

---memasuki ritual nomor 5--

*sebentar mau semedi singkat dulu*

Baru sadar koneksiku sedikit sekali, :( dan inilah beberapa nama yang menjadi nominasi Liebster Award dari Nilam \o/

  1. i Javerson
  2. Naelil16
  3. Fikri Maulana
  4. Titis Ayuningsih
  5. Lapak Medan
  6. Ari
  7. Shinda
  8. Dhita
  9. Hizza
  10. Andry
  11. Fany

*ini soal UTSnya yang kudu dijawab*

  1. Suka baca buku tidak? Beri alasan!
  2. Seberapa sering kamu nongkrong bareng temen?
  3. Kamu akan merasa malu sekali, jika?
  4. Film paling keren sepanjang masa, versi mu!
  5. Suka nulis? Jika iya paling suka nulis tentang apa?
  6. Punya pacar?
  7. Saya tidak suka jika, ibu ......... saya.
  8. Aktif banget di social media? 
  9. Postingan aku yang paling kece versi kamu yang mana?
  10. Lebih suka nonfiksi apa fiksi?
  11. Cinta untuk hidup kamu, itu?

---memasuki ritual nomor 6---

*kipas-kipas* duduk cantik. Nunggu kamu yang udah kepilih ngasih kabar. Muehehe.

Aakkkkk, akhirnya selesai sudah ritual-ritual nya. Maaf, bila ada yang keliru ya.

Sekian. Semoga postingan ini bisa membantu kamu dalam mengenal saya lebih jauh lagi. Eh, duh maaf. Maksudnya lebih mempererat hubungan pertemananan kita di dunia blogging. Happy blogging. Yeeayy..!!


Jumat, 16 Januari 2015

Satu Pilihan Terkejam


Pintu terbuka. Lelaki itu kembali. Kembali? Ini memang kamarnya. Dipanggilnya gadis yang aduhai begitu elok parasnya. Mereka memang sudah seminggu ini tinggal di ruang yang sama.

Lelaki itu tertawa melihat selembar kertas yang ada di meja. Gadis itu tak segera keluar.

"Ah iya aku lupa, aku masih mengikatmu di sini" Gadis itu diam, menatap jijik. 

Lelaki itu menindih tubuh gadisnya seperti yang sudah-sudah. Melepas ikatnya perlahan. Mata gadis itu berbinar lain. Seperti mendapat kekuatan tuk hancurkan. Setelah lepas, diraihnya pisau yang sengaja disiapkan di bawah bantal. Kekesalannya menumpuk. "Persetan dengan semuamu!!" 

Lelaki itu ingin berontak tapi matanya perih, gadis itu sukses mencongkel dua bola matanya. Selanjutnya pisau itu menari-nari dibagian tubuh yang lain.

Gadis itu berhenti. Seprainya sudah cukup merah. Lelaki itu sudah tak bersuara, meski belum mati. Gadis itu tertawa keras. "Ayah, darah kan basahi tanganmu yang berlumur dosa" Bisik gadis itu seraya pergi meninggalkan kertas bertulis: Gadis Belia Diperkosa Dan Dibawa Kabur Oleh Ayahnya-


Darah kan basahi tangan yang berlumur dosa; Ambisi-Revenge the Fate

Kamis, 15 Januari 2015

Aku Tentang Ally - All These Lives


Imajinasi-
Aku seperti turut serta pada setiap kejadian di dalamnya.

Gaes, mau kabar-kabar nih. Muehehe. Aku baru selesai baca ini nih: novelnya kak Arleen judulnya ALLY - ALL THESE LIVES. Eng.. baru selesai baca dua bab aja sih sebenernya. Bukan. Bukan, karena ngga mau baca sampai abis. Cuman ini karena dikasihnya cuman sampai bab 2 aja. Hehe.

Lho? Kok bisa dikasih? Emang aku ini siapa? Apa spesialnya manusia sepertiku ini?
Gini, aku jelasin ya. kenapa aku bisa dapet dua bab itu karena ini:


Kebaca ngga tuh? Setidaknya udah ngerti ya sekarang. Jadi ngga ada lagi pemikiran yang aneh-aneh tentang kenapa aku bisa dapet dua bab pertama dari novel yang akan terbit tanggal 22 Januari 2015 mendatang ini. Ok. Ini adalah kesan ku, si pembaca pertama setelah sukses melahap habis dua bab yang telah diberikan.


Ally - All These Lives
Oleh: Arleen


Sumpah ini buku keren banget. Imajinasi mu pasti bakal main abis di buku ini. Aku aja bacanya ngga pake jeda. Soalnya bikin penasaran woyyy... T_T Dan nagih banget. Dua bab aja? Itu engga cukup. Rekomen banget deh buat kalian-kalian yang suka baca.

Kak novelnya kece badai.. huhuhu... Aku mau banget baca bab tiga, bab empat, bab lima, bab enam, dan bab seterusnya sampe ending. *ngiler*

Selasa, 13 Januari 2015

Seambrek Buku


"Kado 1, Kado 2, Kado 3"
Hehe, katanya kalo namanya disebut
sebanyak tiga kali; akan datang.

Kado.
Seumur-umur selama 18 tahun ini gapernah ngerasain dapet kado. Jangankan dapet kado. Ulang tahun dirayain aja engga pernah. *iya, terlalu miris hidupnya

Bisik-bisik tetangga, eh maksudnya kado impian. Aku punya dong list kado impian. Sebenarnya ini adalah impian dari tahun 2011 yang harus dipendam sampai tahun 2012 yang belum kesampaian juga di tahun 2013 dan tetap ngga kesampaian juga di tahun 2014. Semoga di tahun 2015 ada yang berbaik hati mengabulkan; kado impianku ini.

Kado impianku adalah dapat seambrek buku.  (o^^)o Kenapa seambrek buku? Karena aku memang keranjingan buku. Dari tahun ke tahun ngayalnya selalu dapat kejutan kado berupa: berkadus-kardus buku baru yang dibungkus rapi pakai pemanis pita. Agak aneh ya? Ya tapi ini memang kado yang aku mau. Dan belum pernah ada yang ngasih aku kado ini. Harapanku memang selalu pupus. Syedih.. :(

Sebenarnya ngga perlu bingung mau ngasih aku buku apa. Karena buku apa aja juga bakal aku terima dengan cinta. Apalagi saat ini banyak toko buku online bertebaran tuh jadi ya ngga perlu susah-susah lagi buat ngado aku buku. Tinggal pesan banyak buku, bayar terus pengirimannya langsung ke alamat rumahku. Aku tunggu ya, siapa saja boleh ngado kok. Beneran.
*eh kok aku jadi PD, padal gada yang mau ngadokan ya -_-#

Waa... kok aku jadi makin ngenes gini. Disudahi sajalah ya. Semoga tahun ini ada seorang yang berbaik hati ngado aku seambrek buku. 
Bantu aamiinin gaes. Muehehe..
Sekian, terimakasih sudah baca.
Sampai jumpa di tulisan berikutanya.
Salam kece.

***

Nah!!
Kalau kamu, kado yang seperti apa yang kamu impikan?

http://www.gracemelia.com/2015/01/giveaway-kado-yang-aku-mau.html?m=1



     

Senin, 12 Januari 2015

Buah

Wanita itu selalu keluar malam-malam. Bergandeng seorang lelaki. 
Di sebelah sana, dekat semak belukar. Di situlah biasanya mereka berdua menghabiskan waktu.

Lelaki keluarkan jurus-jurus rayu andalan. Wanita itu gerak-gerakkan kaki, malu.
Keduanya saling jatuh cinta. Lalu terjadilah ritual itu, saling mencumbu.

Wanita itu pulang kerumah. Mukanya berseri-seri.
Nikmat semalam seakan masih melekat.

***

Bulan kemudian Wanita itu hamil. 
Bertambah bulan perutnya semakin buncit. Dia semakin tak kuat berjalan.

Tetiba pada suatu malam. 
Wanita itu meraung-raung kesakitan jelang kelahiran. 
Seisi rumah tak dapat tidur. Ikut khawatir.

Dan saat pagi menjelang.
Wanita itu tergolek lemas, menatap pilu ke empat anaknya yang baru lahir.
"meaow... syukurlah kalian telah lahir, sayang ayahmu tak berada di sini" Kucing itu menjilati ke empat anaknya.

Cinta, Itu Saja

"Cinta dan perih itu satu paket"
-unknown-

Tidak bisa disangkal lagi. Semua orang tahu apa itu cinta. Anak SD saja tahu. *ehgimana?

Coba ketik cinta di kolom search google. Pasti bisa didapat ribuan hasil mengenai cinta. Betapa cinta itu sangat terkenal.

Cinta adalah anugerah Tuhan. Tuhan berbaik hati memberikan kita rasa. Tuhan menjadikan kita hidup. Ya, cinta adalah hidup. Tanpanya kita hanya akan di sebut batu. Keras, tak miliki rasa.

Seberapa besar cinta itu mempengaruhi hidup setiap individu, bergantung pada seberapa pandai individu tersebut mengendalikan rasa.

- Sakit hati. Itu sebenarnya diciptakan oleh dirimu sendiri. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa kamulah yang membuka kesempatan lebar-lebar untuk disakiti. Jadi jangan mengeluh. Koreksi diri.

- Patah hati. Penyebabnya adalah kamu yang tak mencintai dirimu sendiri. Jika kamu mencintai dirimu sendiri, kamu tak akan gila ketika ditinggal seseorang pergi.

- Menjadi korban PHP. Sebenarnya kamu sendirilah yang memupuk harapan-harapan itu. Namun ketika dia pergi, kenapa hanya dia yang disalahkan. Apa kabar kamu yang membuatnya subur?

Ya begitulah. Aku sendiri sempat dibuat pusing akan cinta. Aku pernah mencintai pria secara diam-diam selama tujuh tahun, terhitung sejak aku SD. Aku juga pernah dipermainkan, mau-maunya dibuat jatuh cinta, lalu dengan mudahnya rela ditinggalkan. Aku sempat benci pada diriku sendiri. Apa aku seburuk ini? Apa aku sebegitu menyenangkannya dibercandai masalah cinta? Bodoh? Benar. Mataku dibuka lebar-lebar masalah cinta ketika aku kelas dua SMA. Aku mulai gemar membaca saat itu. Dan ada sebuah wacana dimana isinya, membuat aku menjadi mengerti bahwa mengendalikan rasa itu perlu, dan cinta pada diri sendiri itu penting. Aku menjadi sadar betapa dua kali lipat bodohnya aku ketika aku menangisi cinta pada saat itu. Sadar diri bahwa akulah penyebab dari sakit hati yang ku derita sendiri. Aku!

Dari situ aku menjadi aku yang baru. Aku yang lebih mencintai diri sendiri. Dan aku yang bisa mengendalikan hati. Sekarang aku jauh lebih baik menghadapi masalah cinta. Sungguh, berdamailah dengan hatimu sendiri. Maka masalah cinta  yang menyesakkan hatimu selama ini tidak lagi akan terasa berat.

Sejatinya cinta dan perih itu satu paket. Kau harus siap menghadapi keduanya.

Menuju tengah malam
Dan aku masih
Belum bisa memejamkan mata.
Bayang akan cinta
Bersatu dengan bahagia juga duka. 
Kemungkinan untuk bahagia
Sama besarnya dengan kemungkinan akan terluka. 
Kemudian,
Pandai-pandailah aku mengatur rasa.

Itulah sedikit gambarku mengenai cinta. Kuncinya kamu hanya perlu belajar mengendalikan rasa. Itu saja.

Dan, oh iya. Sebelum ku akhiri tulisan ini. Aku mau nanya dong. Muehehe aku kepo, apa makna cinta bagi hidupmu secara pribadi? Apakah cinta bagimu itu membahagiakan? Atau malah sebaliknya menyebalkan? Punya, dendam sendiri akan cinta? Atau malah miliki kenangan manis dengan cinta? Muehehe, kehidupan orang ternyata berbeda-beda ya... Duh aku ini kemana aja? *kemudian ditimpukin bata*

Sudahlah ya, dari pada obrolan ini kian melantur. Diakhiri sampai disini saja. Semoga tulisan ini tidak terlalu buruk untuk dibaca. Terimakasih sudah baca ya. ヽ(^。^)ノ
Sampai jumpa di tulisan saya yang berikutnya. Jangan bosan-bosan mampir. Tinggalkan jejak supaya, saya bisa telusuri dan nyungsep di tempat kalian. Muehehehe..
Sekian,
Salam kece.
***
Bagi kamu yang ingin menumpahkan segala macam pemikiran mengenai cinta dan seluk-beluknya. Boleh deh ikutan Giveaway ini. Jangan lupa untuk berpartisipasi ya. ↖(^▽^)↗




Dan ini dicantumkan, sebagai salah satu ketentuan:



 


Minggu, 11 Januari 2015

Yakin Masih Benci Baca?



“Percuma saja rangkai mimpi bagus-bagus. Jika membaca saja kau masih tak suka”
-unknown-

Ketika sekumpulan remaja ditanya ingin menjadi apa saat dewasa, jawabannya selalu sama. Ingin menjadi sukses, dan semacamnya. Tapi ketika diperhatikan, remaja-remaja itu tak pernah yang namanya menyentuh buku, jarang sekali menekuni yang namanya membaca. Bukankah untuk menjadi semua yang diimpikan itu mereka harus pandai? Harus miliki wawasan luas? Dan ingat manusia tahu ini itu dari buku bukan? Jadi? Bagaimana bisa mereka mencapai mimpi-mimpi besar mereka itu kalau-kalau membaca saja mereka tidak suka.

Nah, jika demikian membaca itu penting dong ya. Bagi yang tidak suka membaca. Berujar alasan yang beragam. Ada yang bilang membosankan, tidak seru, buang waktu dan semacamnya. Tapi jika boleh saya beri tahu, sebenarnya membaca itu seru lho. Loh kok bisa? Seru dari mananya?

Membaca, kenapa seru? Karena:


  1. Dengan membaca kamu bisa tahu banyak hal. Dan bukankah kamu akan mudah bersosialisasi jika banyak tahu? Dengan begitu kamu akan dianggap sebagai teman yang asik diajak berbincang. Bahasan mengobrol juga bisa meluas. Beda dengan orang yang tidak suka membaca. Banyak ngga tahunya. Nah, dengan begini kamu bisa eksis dengan mudah. Seru bukan?
  2. Remaja mana yang ngga suka berhayal? Nah bagi kamu yang tingkat hayalnya tinggi, membaca bisa menjadi sarana paling kece menuangkan imaji-imaji yang ada di kepala. Dengan membaca kamu bebas berimajinasi. Nah, seru kan ya.

Itulah kenapa saya sendiri suka membaca dan sampai-sampai menganggap buku itu pacar. Sebab saya ingin banyak tahu dan juga ingin berhayal sebebas-bebasnya. Dan, ya. Sebenarnya saya kecewa, adik saya sendiri malah sama sekali tidak suka membaca. Padahal saya fanatik sekali dengan yang namanya buku. Saya sendiri bingung. Sudah saya iming-imingi buku bagus dia tetap saja melengos tidak peduli. Tidak seperti saya dia sama sekali tidak tertarik dengan buku. 

Nah ini yang membuat saya memutar otak mencari cara supaya-supaya adik saya doyan baca. Ya tujuannya jelas supaya dia meluas cara berpikirnya. Dan berikut saya bagi kisah saya dalam menularkan virus membaca kepada adik saya.

Cara 1: Menunjukkan kecintaan saya terhadap buku.
Kenapa begitu? Bukankan untuk bisa menekuni suatu hal kita harus cinta dulu? Nah, dalam hal ini bagaimana saya bisa mengajak adik saya menekuni baca jika dia saja tidak melihat saya mencintai buku. Jadi tunjukkan di depan mereka bahwa kamu suka buku, pamerkan bahwa membaca itu seru. Dan cara ini berhasil memnuat adik saya kepo.

Cara 2: Menunjukkan blog yang saya punya.
Wah. Yang ini sebenarnya tidak sengaja. Tapi boleh dicoba. Karena apa? Di blog kita pasti menulis yang ringan-ringan bukan? Nah, ini cocok untuk menarik minat baca. Terbukti setelah adik saya tahu link blog saya, dia jadi tertarik membaca habis isinya.

Cara 3: Ceritakan hal seru dari buku yang sudah saya baca.
Pernah suatu waktu saya membeli buku. Bukunya memang ringan sekali isinya. Tentang kehidupan sehari-hari. Saya ceritakan saja hal-hal lucu yang ada di dalam bukunya. Terbukti, adik saya melahap habis buku itu dan bahkan dibawanya buku itu ke sekolah. Wal hasil buku saya keliling ke rumah teman-teman adik saya.

Dan seperti itulah pengalaman saya menularkan virus baca kepada adik saya. Tentu setiap individu miliki karakter yang berbeda-beda ya. Jadi kenali dulu bagaimana karakter dari mereka itu. Baru setelah itu atur strategi untuk menularkan virus baca. Saya kasih bocoran ya, cukup pegang kata "ringan". Maksudnya tarik minat baca mereka dengan bacaan yang ringan-ringan dulu. Dengan begitu yakin deh, lama kelamaan mereka juga akan tertarik sendiri membaca banyak buku yang tidak ringan lagi.

Nah, masih malas untuk baca? Duh awas loh ya, nanti jadinya kagok pas di ajak ngobrol tapi ngga tau sama yang diobrolin, karena kamu jarang baca buku.

Muehehe. Ayolah mulai cintai buku, mulai tekuni membaca. Yakin kamu akan tuai hal manis setelah banyak melahap buku. Ayolah, Ayah sama Bunda juga ya. Rajin-rajin membaca supaya bisa menularkan virus baca pada buah hatinya semenjak kecil.

Terakhir dari saya, semoga tulisan saya ini dapat membantu memotivasi anda dalam mencintai buku. Jika ada pemikiran saya yang keliru mohon dimaklumi. Hehe. Sampai jumpa di tulisan saya berikutnya ya.

Salam kece,

Ada yang bilang aku punya jendela dunia
Aku tanya mana jendela itu
Orang itu bilang banyak-banyaklah aku membaca
Dengan begitu katanya aku akan tahu.



Esai ini diikut sertakan dalam Giveaway Bingkisan Cinta Baca

Ini Cinta, atau Apa? #7


"Dorr" Aku mencoba mengagetkan Andry yang sedang duduk di beranda kos. Dan dia sama sekali tidak terkejut.

"Apaan sih Al?" Sahutnya santai.

"Ahh. Ngga menghargai banget. Setidaknya pura-pura kaget gitu" Aku memasang muka ngambek.

"Anak kecil"

"Andry!!!"

Andry tertawa puas. Dia selalu senang meneriakiku anak kecil. Ya sama senangnya dengan aku yang meneriakinya om om. Ternyata ini yang aku rindukan dari Andry. Tawanya yang renyah.

"Dry, aku ingin cerita"

"Apa?" Wajahnya mendadak serius.

"Kakakmu menyuruhmu balik Jakarta?" Imbuhnya.

"Ah iya ya, aku jadi ingat aku sudah lama tak memberi kabar pada kakakku. Ah tapi bukan itu yang ingin ku ceritakan"

"Lalu?"

"Ini tentang Kev"

"Lelaki tahun baru itu"

Aku tidak mengerti kenapa Andry masih saja menyebut Kev dengan sebutan itu, jelas-jelas dia sudah tau namanya.

"Iya, dia tadi mengatakan cinta kepadaku"

"Oh, benarkah?"

"Hanya begitu? Kau tak ingin mengatakan apapun?"

"Memangnya kau ingin aku mengatakan apa Ale? Aku senang banyak yang menyukaimu" Jawabnya diimbuhi senyum simpul.

"Baiklah, aku mau mandi. Kerja seharian membuat badanku berasa lengket"

Aku meninggalkan Andry yang duduk di beranda, sendiri.

***
Aku merebahkan tubuhku di kasur. Membolak-balik badan tak bisa tidur. Bingung pikirkan jawaban apa yang seharusnya kuberikan pada Kev besok. Andry juga tak memberikan masukan yang membantu. "Apa ku terima saja? Toh Andry tak peduli" omongku melantur.

Ya sejak aku temu origami merah itu. Aku, rasaku seperti berubah pada Andry. Aku seperti tak ingin buatnya luka. Kau benar, ketergantunganku pada Andry memanglah cinta. Aku mengaku, aku kalah.

Khianat

Bam!! berjatuhan tiap-tiap keping hati yang pecah. Bergremincing menyentuh aspal. Luka tak terkira menjalar seluruh tubuh.

"Kau tega, Dy" ucap Rani nyaris tak terdengar, suara isaknya lebih keras ketimbang bunyi kalimatnya.

"Sudah ku bilang, jangan terlalu mencintaiku!" Teriak Dyo tepat di muka Rani.

Lelaki ini seakan tak punyai hati, bisa-bisanya berteriak di muka wanita yang kini sedang patah hati. Penuh luka. Penuh bulir air mata.

"Siapa mau mencintaimu sedalam ini. Jika bisa aku juga tidak pernah mau mencintaimu!!" Balas Rani dengan teriakan pula; teriakan parau diselingi isak yang semakin membuat dadanya sesak

Dyo diam. Wajahnya nampak memanas. Ingin diluapkan amarahnya pada Rani. Namun urung, karena seorang gadis merangkulnya membisikan kalimat singkat. Sedang Rani sudah tak kuasa lagi berdiri. Kini kedua kakinya menekuk dicumbui dinginnya aspal.

"Baiklah ayo pergi, maaf kau harus menonton drama semacam ini" ucap Dyo pada gadis yang berbisik di telinganya tadi.

"Dan kau pulanglah, bayimu menunggu!!" Ucap Dyo lagi pada Rani. Lalu berlalu berjalan pelan merangkul si gadis dengan tak malu-malu.

— Rani belum beranjak. Air matanya kering. Tatapan matanya kosong. Bocah kecil takut-takut bertanya. “Bun, ayah dan kakak mau pergi kemana?” “Pergi dan tak akan pulang, nak” Rani merangkul anaknya yang nomor dua.

Jumat, 02 Januari 2015

Ini Cinta, atau Apa? #6

"Kev, terimakasih untuk hari ini" 

"Em. Sama-sama, lekaslah tidur. Besok kau harus bekerja. Selamat malam, Al" Kev menjatuhkan kecupnya tepat dipipi kananku.

Aku mengangguk kaku. Kev pun tersenyum sekali lagi lantas pergi.

***
"Andry? Bagaimana kau bisa masuk?" Aku sedikit kaget mendapati Andry berada di kamarku, duduk di kasurku. Dengan muka yang begitu cemas?

"Kau dari mana saja baru pulang jam segini. Kau ini perempuan, Al. Mana bagus jalan berdua dengan lawan jenis hingga malam begini" 

"Aih, kau kenapa? Sudah tak ngambek denganku ya?"

"Siapa bilang aku ngambek?"

"Lantas dua bulan belakangan ini apa? Menyapaku saja tidak" Ucapku membuang muka belagak ngambek.

"Haha. Saat itu aku sedang ribet dengan pekerjaan. Daripada aku tak fokus berada dekatmu. Lebih baik tidak dekat sama sekali"

"Kejam" Aku berlari memeluk Andry. Tidak tahu aku hanya merasa rindu.

"Ale, andai saja kau tahu" Ucap Andry pelan, lebih pelan dari desauan angin.

"Kau barusan bilang apa, Dry?"

"Tidak, bukan apa-apa"

Aku senang. Akhirnya manusia menyebalkanku kembali lagi. Apa ini cinta? Kurasa bukan. Aku hanya terlanjur bergantung pada Andry dan tidak ingin kehilangannya lagi. Tidak lebih dari itu. Aih, percayalah.

"Apa kabarmu?" Tanyaku sembari melepas peluk.

"Aku baik saja. Kau bagaimana? Bocah kecil ini semakin dekat saja dengan lelaki kemarin di tahun baru itu"

"Maksudmu... Kev? Ah dia hanya bosku, tidak lebih"

"Bos tapi sudah mengecupmu sebanyak dua kali? Setidaknya itu yang ku lihat sendiri"

"Apa maksudmu? Jangan menggodaku dengan hal yang begituan"

"Apa? Kenapa? Sudah berapa kali dia mengecupmu? Haha"

"Andry. Lebih baik keluar sana. Kau semakin menyebalkan"

"Cie cie, bocah kecil udah gede"

"Andry....!!!" Aku mendorong-dorongnya menuju pintu saking sebalnya. Dan ada lipatan origami merah yang terjatuh. Kurasa berasal dari sakunya.


"Apa ini? Untuk apa om om itu menyimpan kertas semacam ini?"

Kamis, 01 Januari 2015

Ini Cinta, atau Apa? #5

Aku dan Kev jadi pergi bersama. Tidak tahu kenapa aku setuju diajaknya pergi. Aku hanya sudah pening menanggapi pikir, pikirku sendiri mengenai Andry. Aku lelah sekali. Sejak Andry mulai berubah aku jadi kurang tidur karena lebih sering menghabiskan waktu untuk memikirinya.

Aku sibuk melamun. Dan disisi lain Kev sibuk memanggil manggilku. "Al.. Ale.. Al?"

"Al kau baik-baik saja?" Ucapnya kemudian dengan mengenggol bahuku.

"Ah.. Y a, ten tu" Ucapku setelah lepas dari lamunan.

"Ada yang kau pikirkan? Ceritalah. Aku bisa menjadi pendengar yang cukup baik"

"Tidak perlu Kev. Aku baik saja. Apa tujuan kita masih jauh?" Tanyaku alihkan pembicaraan.

"Ya. Lebih baik kau istirahatlah. Dengan memejam misalnya"

Kev ada benarnya. Aku memang lelah sekali. Terlebih lagi pikiranku. Aku memang butuh tidur untuk melupakannya (Andry) sejenak.

***
"Ale, bangunlah. Kita sudah sampai"

Aku mengucek ngucek kedua mata. "Kita dimana?"

"Haha, bukalah matamu dulu"

Aku sempurna membuka mataku. Dan mendapati hamparan laut yang indah. "Kev, ini pukul berapa?"

"Pukul tiga"

Aku langsung berlarian ke pantai. Bermain air. Melepas penat. Pantai ini menyejukkan sekali. Aku suka.

Kev diam saja, duduk diatas pasir memejam mata. Setelah lelah bermain air baru aku menuju dekatnya mengambil tempat untuk duduk.

"Kev tempat ini namanya apa?"

"Kenjeran Al"

"Ini indah sekali, Kev. Menikmati sunset dari sini. Benar benar indah. Terimakasih sudah membawaku kemari" Aku menyenderkan kepalaku di bahu Kev.