Senin, 22 Desember 2014

Melepas Lalu #3

Minggu minggu berlalu setelah perkenalan aneh itu, aku dan Mara entah saja menjadi begitu dekat. Dia pendengar yang baik. Perhatiannya luar biasa. Dia orang yang tepat untuk di cintai, menurutku.

"Pita! Maaf sudah membuatmu menunggu"

Aku memang telah menunggunya semenjak tadi. Tapi tak masalah, lagi pula aku juga suka tempat ini. Aku mencecap kopiku sedikit. "Tak apa, lagipula aku tak terlalu lama menunggu. Duduklah"

"Ada apa? Kau sudah merindukan ketampananku?" Ucapnya sembari tertawa.

Pun aku ikut tertawa kecil. Mara memang selalu begitu, terlalu PD. "Mara seriuslah sedikit. Ini tentang ucapanmu kemarin senja di taman"

"Pita, bila kau masih belum tau akan jawab apa. Jawablah nanti saja, saat kau sudah benar-benar tau akan jawaban terbaiknya. Takusah kau paksakan"

Aku diam, masih menyusun kalimat jawab untuk kalimatnya barusan.

"Pita, aku tau kau masih begitu mencintai Gesang. Hatimu masih sering teriakkan pelan nama itu, aku tau. Jujur saja aku iri. Dan tentang percakapan kita kemarin senja itu aku tak bohong. Aku tetap ingin habiskan sisa tawa dan tangisku denganmu"

Aku mutlak diam. Bibirku tak lagi mampu berucap kata. Pipiku basah.

"Jangan menangis, aku tak suka" ucap Mara sembari menyeka tangisku.

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar