Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Februari 2015

Elyana

"Iya sayang, lima menit lagi aku akan sampai". "Cepatlah sedikit, By". Sambungan terputus, dan aku belum sadar.

***
Elyana bilang aku ini lelaki yang menyebalkan, selalu terlambat datang saat kencan, dan teledor. "Aku juga mencintaimu, Hasbby". Aku selalu suka mimik muka Elyana saat berujar dia mencintaiku. Pipinya bersemu merah, dan bibirnya, membentuk lengkung senyum. Elyana cantik, aku tak bohong. Dia gadis yang ajaib, tahan menghadapi lelaki sepertiku.
***
"Temukan gadis lain yang lebih tahan menghadapi lelaki sepertimu, By". "Tapi, El". Dia memejam. Aku diam.

***
"Hasbby, kau akan terlambat lagi? Bahkan di kencan terakhir sebelum aku pergi ke Inggris?". "Iya sayang, lima menit lagi aku akan sampai". "Cepatlah sedikit, By". Sambungan terputus.

Aku sampai dalam waktu dua puluh menit. Elyana sudah tidak ada. "Mas...". Seseorang menyapaku.

***
Aku memacu motorku secepat yang aku bisa. Pejelasan singkat mbak-mbak yang tadi sudah cukup membuatku memiliki alasan untuk itu. Aku sampai di tempat tujuan, merapat menuju parkiran. Melangkah cepat melewati lorong-lorong. Langkah ku terhenti. "Elyana?" Aku kaku melihat Elyana, gadis yang ku cintai terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
***
"Temukan gadis lain yang lebih tahan menghadapi lelaki sepertimu, By". "Tapi, El". Dia memejam. Aku diam. Semuanya cemas, aku juga. "Maaf.." Dokter bilang dia tidak akan bangun lagi.

***
"Hasbby, kau akan terlambat lagi? Bahkan di kencan terakhir sebelum aku pergi ke Inggris?". "Iya sayang, lima menit lagi aku akan sampai". "Cepatlah sedikit, By". Sambungan terputus, dan aku sadar tak seharusnya aku datang terlambat.

Sumber: Google
Alunan kidung senja, menggema tak bersuara.
Segala sesal tak dapat ku ingkari keberadaannya. Gelap, sunyi menangis terluka.
Beribu dosa, terngiang mengalun. Bisa-bisanya aku tak sadar kau tengah dihinggapi parasit mematikan. Aku memang lelakimu yang payah.
"El, aku masih suka menatap kerling bola matamu, dalam potret yang ada di ponselku".

Pundakku ditepuk. "Ayah, ayo main bola sebelum bunda mengomel tentang maghrib yang sebentar lagi tiba".

Larasati-Tenggelam Ditelan Keabadian

Kamis, 19 Februari 2015

Siapa Namamu?

#1
Aku melihat dia. Di sana untuk yang pertama. Aku suka matanya, bibirnya. Raut wajahnya meneduhkan. Dia gadis pertama yang membuat detak jantungku tak terkendali bunyinya.

Di minggu berikutnya ku beranikan diriku untuk menyapanya. "Hi...!" Kataku. Dia hanya menoleh dan tersenyum. Aku sempurna beku. Saat itu dia menatapku lama. Lantas berkata "Ya?" Aku lari. Meninggalkan dia yang kebingungan sendiri.

Besoknya tak ku temui dia lagi di tempat biasa. Hatiku sesak. Harusnya tak ku siakan kesempatan kemarin. Apa kabar dia hari ini?

#2
Aku melihat dia. Di seberang sana. Karenanya aku menjadi sering berada di sini. Aku suka senyumnya. Senyumnya menyemangatiku. Dia lelaki pertama yang membuatku gila. Membuatku betah berlama-lama di tempat ini sendiri.

Di minggu berikutnya. Lelaki itu menyapaku. "Hi...!" Katanya. Aku kaget. Aku senang. Aku menoleh dan tersenyum padanya. Menatapnya lama karena tidak tahu harus berkata apa. Akhirnya ku katakan "Ya?" Dan kemudian dia lari. Aku kecewa. Dia kenapa?

#3
Di seberang jalan sana ada gaduh yang teramat gaduh. Orang-orang bergerombol di tengah jalan. Lelaki itu memutuskan untuk bertanya pada seorang. "Ada apa?" "Ada perempuan yang baru saja tertabrak" Lelaki itu tiba-tiba merasa sakit. Langkah kakinya perlahan menuju ke tengah kerumunan. Air matanya menetes dengan sendiri. Dia mengenali wajah seorang yang kini beku penuh darah. Perlahan bibirnya bergerak "Siapa namamu?"

#4
Gadis itu kini beku di tengah jalan sana. Dia menangis. "Aku tak akan bisa melihat lelaki itu beserta senyumnya" Dia menoleh, seperti mengenali bunyi langkah itu. Benar langkah lelakinya. Gadis itu riang bukan kepalang. "Setidaknya aku bisa melihat lelaki ini untuk yang terakhir. Eh, tunggu. Aku baru sadar saat menangis pun lelaki ini nampak tampan, ah.. siapa namamu?"

Rabu, 04 Februari 2015

Hidup?

#1
Aku benci ibuku. Aku merasa dia tak menyanyangiku. Bagaimana bisa kusebut dia sayang? Kalau kerjanya hanya menitipkanku pada tante. Lalu pergi selama bertahun-tahun.

Aku benci ibuku. Aku tidak bisa mengerti segala hal tentangnya. Bagaimana bisa mengerti? Bersama saja aku tak pernah. Sekalinya dia pulang, aku tak mampu bertanya apapun, karena dia terasa begitu asing.

Aku benci ibuku. Karena aku tak bisa memeluknya bebas, sebebas temanku memeluk ibunya. Bagaimana bisa memeluk? Ditinggalnya lama membuat aku canggung jika berhadapan dengannya.

Aku benci ibuku. Tak pernah bisa aku bercerita banyak hal padanya. Bagaimana bisa cerita? Memandangnya saja aku takut.

Belasan tahun, aku benci ibuku.

#2
Aku cinta anakku. Aku yakin anakku juga demikian cinta padaku. Saking cintanya aku rela pergi jauh dari sisinya, menahan rindu, menahan segala. Menjadi TKW aku rela.

Aku cinta anakku. Segala hal tentangnya aku paham. Kakakku bererita banyak. Dia tumbuh menjadi gadis yang cantik. Tidak neko-neko seperti gadis-gadis lain di jaman ini.

Aku cinta anakku. Aku selalu ingin memeluknya. Membelai rambutnya. Selalu. Tapi kepergianku selama tahunan itu membuatnya sedikit menjauhiku. Jadi, aku hanya bisa memeluknya kala ia tertidur. Tidak apa itu sudah sangat cukup.

Aku cinta anakku. Aku selalu ingin mendengarkan segala bentuk hari-harinya. Tapi sayang dia tak pernah cerita. Untung saja dia selalu menulisnya di buku harian. Jadi aku bisa baca.

Seumur hidup, aku mencintai anakku.

#3
Aku ingin menulis keluhku lagi hari ini. Tapi aku menemui tulisan orang lain di buku harianku. Penanya warna biru. 

Ibu mencintaimu, peluk ibu jika kau ingin peluk. Bercerita saja jika ingin cerita. Ibu tidak akan kemana-mana. Ibu menunggumu.

Minggu, 11 Januari 2015

Ini Cinta, atau Apa? #7


"Dorr" Aku mencoba mengagetkan Andry yang sedang duduk di beranda kos. Dan dia sama sekali tidak terkejut.

"Apaan sih Al?" Sahutnya santai.

"Ahh. Ngga menghargai banget. Setidaknya pura-pura kaget gitu" Aku memasang muka ngambek.

"Anak kecil"

"Andry!!!"

Andry tertawa puas. Dia selalu senang meneriakiku anak kecil. Ya sama senangnya dengan aku yang meneriakinya om om. Ternyata ini yang aku rindukan dari Andry. Tawanya yang renyah.

"Dry, aku ingin cerita"

"Apa?" Wajahnya mendadak serius.

"Kakakmu menyuruhmu balik Jakarta?" Imbuhnya.

"Ah iya ya, aku jadi ingat aku sudah lama tak memberi kabar pada kakakku. Ah tapi bukan itu yang ingin ku ceritakan"

"Lalu?"

"Ini tentang Kev"

"Lelaki tahun baru itu"

Aku tidak mengerti kenapa Andry masih saja menyebut Kev dengan sebutan itu, jelas-jelas dia sudah tau namanya.

"Iya, dia tadi mengatakan cinta kepadaku"

"Oh, benarkah?"

"Hanya begitu? Kau tak ingin mengatakan apapun?"

"Memangnya kau ingin aku mengatakan apa Ale? Aku senang banyak yang menyukaimu" Jawabnya diimbuhi senyum simpul.

"Baiklah, aku mau mandi. Kerja seharian membuat badanku berasa lengket"

Aku meninggalkan Andry yang duduk di beranda, sendiri.

***
Aku merebahkan tubuhku di kasur. Membolak-balik badan tak bisa tidur. Bingung pikirkan jawaban apa yang seharusnya kuberikan pada Kev besok. Andry juga tak memberikan masukan yang membantu. "Apa ku terima saja? Toh Andry tak peduli" omongku melantur.

Ya sejak aku temu origami merah itu. Aku, rasaku seperti berubah pada Andry. Aku seperti tak ingin buatnya luka. Kau benar, ketergantunganku pada Andry memanglah cinta. Aku mengaku, aku kalah.

Khianat

Bam!! berjatuhan tiap-tiap keping hati yang pecah. Bergremincing menyentuh aspal. Luka tak terkira menjalar seluruh tubuh.

"Kau tega, Dy" ucap Rani nyaris tak terdengar, suara isaknya lebih keras ketimbang bunyi kalimatnya.

"Sudah ku bilang, jangan terlalu mencintaiku!" Teriak Dyo tepat di muka Rani.

Lelaki ini seakan tak punyai hati, bisa-bisanya berteriak di muka wanita yang kini sedang patah hati. Penuh luka. Penuh bulir air mata.

"Siapa mau mencintaimu sedalam ini. Jika bisa aku juga tidak pernah mau mencintaimu!!" Balas Rani dengan teriakan pula; teriakan parau diselingi isak yang semakin membuat dadanya sesak

Dyo diam. Wajahnya nampak memanas. Ingin diluapkan amarahnya pada Rani. Namun urung, karena seorang gadis merangkulnya membisikan kalimat singkat. Sedang Rani sudah tak kuasa lagi berdiri. Kini kedua kakinya menekuk dicumbui dinginnya aspal.

"Baiklah ayo pergi, maaf kau harus menonton drama semacam ini" ucap Dyo pada gadis yang berbisik di telinganya tadi.

"Dan kau pulanglah, bayimu menunggu!!" Ucap Dyo lagi pada Rani. Lalu berlalu berjalan pelan merangkul si gadis dengan tak malu-malu.

— Rani belum beranjak. Air matanya kering. Tatapan matanya kosong. Bocah kecil takut-takut bertanya. “Bun, ayah dan kakak mau pergi kemana?” “Pergi dan tak akan pulang, nak” Rani merangkul anaknya yang nomor dua.

Jumat, 02 Januari 2015

Ini Cinta, atau Apa? #6

"Kev, terimakasih untuk hari ini" 

"Em. Sama-sama, lekaslah tidur. Besok kau harus bekerja. Selamat malam, Al" Kev menjatuhkan kecupnya tepat dipipi kananku.

Aku mengangguk kaku. Kev pun tersenyum sekali lagi lantas pergi.

***
"Andry? Bagaimana kau bisa masuk?" Aku sedikit kaget mendapati Andry berada di kamarku, duduk di kasurku. Dengan muka yang begitu cemas?

"Kau dari mana saja baru pulang jam segini. Kau ini perempuan, Al. Mana bagus jalan berdua dengan lawan jenis hingga malam begini" 

"Aih, kau kenapa? Sudah tak ngambek denganku ya?"

"Siapa bilang aku ngambek?"

"Lantas dua bulan belakangan ini apa? Menyapaku saja tidak" Ucapku membuang muka belagak ngambek.

"Haha. Saat itu aku sedang ribet dengan pekerjaan. Daripada aku tak fokus berada dekatmu. Lebih baik tidak dekat sama sekali"

"Kejam" Aku berlari memeluk Andry. Tidak tahu aku hanya merasa rindu.

"Ale, andai saja kau tahu" Ucap Andry pelan, lebih pelan dari desauan angin.

"Kau barusan bilang apa, Dry?"

"Tidak, bukan apa-apa"

Aku senang. Akhirnya manusia menyebalkanku kembali lagi. Apa ini cinta? Kurasa bukan. Aku hanya terlanjur bergantung pada Andry dan tidak ingin kehilangannya lagi. Tidak lebih dari itu. Aih, percayalah.

"Apa kabarmu?" Tanyaku sembari melepas peluk.

"Aku baik saja. Kau bagaimana? Bocah kecil ini semakin dekat saja dengan lelaki kemarin di tahun baru itu"

"Maksudmu... Kev? Ah dia hanya bosku, tidak lebih"

"Bos tapi sudah mengecupmu sebanyak dua kali? Setidaknya itu yang ku lihat sendiri"

"Apa maksudmu? Jangan menggodaku dengan hal yang begituan"

"Apa? Kenapa? Sudah berapa kali dia mengecupmu? Haha"

"Andry. Lebih baik keluar sana. Kau semakin menyebalkan"

"Cie cie, bocah kecil udah gede"

"Andry....!!!" Aku mendorong-dorongnya menuju pintu saking sebalnya. Dan ada lipatan origami merah yang terjatuh. Kurasa berasal dari sakunya.


"Apa ini? Untuk apa om om itu menyimpan kertas semacam ini?"

Kamis, 01 Januari 2015

Ini Cinta, atau Apa? #5

Aku dan Kev jadi pergi bersama. Tidak tahu kenapa aku setuju diajaknya pergi. Aku hanya sudah pening menanggapi pikir, pikirku sendiri mengenai Andry. Aku lelah sekali. Sejak Andry mulai berubah aku jadi kurang tidur karena lebih sering menghabiskan waktu untuk memikirinya.

Aku sibuk melamun. Dan disisi lain Kev sibuk memanggil manggilku. "Al.. Ale.. Al?"

"Al kau baik-baik saja?" Ucapnya kemudian dengan mengenggol bahuku.

"Ah.. Y a, ten tu" Ucapku setelah lepas dari lamunan.

"Ada yang kau pikirkan? Ceritalah. Aku bisa menjadi pendengar yang cukup baik"

"Tidak perlu Kev. Aku baik saja. Apa tujuan kita masih jauh?" Tanyaku alihkan pembicaraan.

"Ya. Lebih baik kau istirahatlah. Dengan memejam misalnya"

Kev ada benarnya. Aku memang lelah sekali. Terlebih lagi pikiranku. Aku memang butuh tidur untuk melupakannya (Andry) sejenak.

***
"Ale, bangunlah. Kita sudah sampai"

Aku mengucek ngucek kedua mata. "Kita dimana?"

"Haha, bukalah matamu dulu"

Aku sempurna membuka mataku. Dan mendapati hamparan laut yang indah. "Kev, ini pukul berapa?"

"Pukul tiga"

Aku langsung berlarian ke pantai. Bermain air. Melepas penat. Pantai ini menyejukkan sekali. Aku suka.

Kev diam saja, duduk diatas pasir memejam mata. Setelah lelah bermain air baru aku menuju dekatnya mengambil tempat untuk duduk.

"Kev tempat ini namanya apa?"

"Kenjeran Al"

"Ini indah sekali, Kev. Menikmati sunset dari sini. Benar benar indah. Terimakasih sudah membawaku kemari" Aku menyenderkan kepalaku di bahu Kev.


Selasa, 30 Desember 2014

Ini Cinta, atau Apa? #4

Insiden dua bulan lalu; malam pergantian tahun.

Aku tidak ingat apa yang di ucap Andry waktu itu. Yang jelas semenjak kejadian itulah kurasa sikapnya perlahan berubah.

Aku dan Andry memang sudah berencana jauh jauh hari untuk menghabiskan malam pergantian tahun bersama. Dan bahkan Andry lah yang paling bersemangat merencanakan hal ini. Aku hanya perlu berkata setuju di setiap ocehnya tentang apa apa yang akan kita lakukan di malam pergantian tahun.

"Al, nanti kau dandan yang cantik ya" ini kalimat paling aneh yang kudengar dari lelaki itu.

"Jangan coba-coba menggodaku om" ledekku. Aku tertawa puas melihat ekspresi wajahnya yang berubah kecut.

"Ale..!! #@$$+%+123466" teriaknya sambil melempariku dengan bantal.

"Haha, kenapa aku harus dandan? Ini kan hanya malam pergantian tahun. Lagipula hanya rayakan denganmu. Untuk apa pula dandan" ucapku kemudian.

"Ah sudahlah, aku balik kamar dulu. Awas kangen yakk"

"PD sekali om. Bwee"

Andry hilang dibalik pintu kosku. Dan aku menyukseskan tubuh untuk istirahat dalam lelap yang enak.

***
Aku membuka mata, tanganku mencari cari keberadaan ponsel. Aku perlu tahu ini pukul berapa. Dapat! pukul 13:00 aku tidur cukup lama. Sejak pukul 10:00 tadi. Aku berjalan menuju kamar mandi. Lantas berganti pakaian lalu pergi menuju ke tempat kenalanku, Anna dia temanku kerja di cafe. Cantik, manis dan baik. Dia berbaik hati meminjamkan gaun, dan berjanji akan mendandaniku malam ini. Ah baiklah aku memang terlalu malas dandan. Apalagi memakai gaun. 

Dan setelah Anna bersusah payah memoles wajahku sana sini. Dan menyuruhku berganti baju dengan gaun biru laut miliknya. Aku mendapati sosok yang lain pada cermin. Sungguh seperti bukan aku.

"Ah, kau makin terlihat cantik Al" ucap Anna.

"Kau yang pandai memolesku dengan make-up An. Terimakasih sudah membuatku secantik ini. Ini pukul berapa?"

"Pukul enam, hampir setengah tujuh"

"Aku harus segera pergi. Terimakasih sekali lagi. Gaunmu akan ku kembalikan lusa" aku memeluk Anna dan berlalu pergi.

"Tak usah dikembalikan. Gaun itu hadiah untukmu" kalimatnya terdengar samar di telingaku.

***
Aku melihat punggung lelaki berdiri di sisi lain tempat kos. Ya, lelaki itu pastilah Andry. Dia pasti telah menunggu lama.

"Dry" ucapku.

Lelaki itu hampir sempurna menoleh pada arahku. Lantas mataku melirik pintu kamar Andry yang bergeser. Dan Andry keluar setelahnya, tubuhnya menutupi lelaki yang kulihat pertama tadi. Jika Andry baru saja keluar kamar. Lelaki yang tadi siapa? Tak sempat aku berpikir. Andry sudah membolak balikan tubuhku. 

"Ale.. kau manis sekali dengan gaun ini" wajahnya girang bukan kepalang.

"Ah sudahlah. Kau membuat dandananku rusak. Bagaimana? Aku cantik tidak?" 

"Sungguh cantik sekali Al" ucap lelaki yang tadi, mendahuli gerakan bibir Andre. Aku hampir saja lupa bila ada seorang lelaki berdiri di situ.

"Kev?" Ucapku terbengong bengong mendapati Kev di depan mata.

"Hehe, iya. Apa aku mengganggu acara kalian?" ucap Kev dengan senyum khasnya yang manis.

"Tidak. Kau bisa gabung bersama kami. Lagipula akan semakin rame bila ada kamu juga. Benar kan dry?" ah aku menyesali kalimat ini. Ini awalmula kenapa Andry menjadi berubah sepertinya.

"Iya tentu saja" ucap Andry. Ya Tuhan harusnya aku memerhatikan ekspresi yang berubah pada raut Andry.

"Kita jalan sekarang?" Ucapku bersemangat.

Kami akhirnya jalan bertiga. Menuju tempat yang sudah dipilih oleh Andry sejak jauh-jauh hari. Taraa!! Jembatan Suramadu. Kami sampai pukul sembilan. Lumayan jauh dari kosan memang. Aku kagum bukan kepalang baru kali ini aku melihat Suramadu dengan lampu kerlap kerlip yang indah seperti ini apalagi ini malam pergantian tahun. Ada banyak pengunjung lain yang memilih tempat ini untuk habiskan waktu. Andry pintar memilih tempat ini untukku.

"Dry ini bagus sekali. Aku suka" celetukku

Andry tersenyum puas. Bernafas lega pilihannya akan Jembatan Suramadu tak sia-sia.

Kami mengobrol bertiga. Tentang banyak hal. Meski sebenarnya lebih banyak aku dan Kev yang mengobrol.

"Sepuluh menit lagi pukul 24:00" celetuk Andry.

"Benarkah? Tak terasa juga ya? Terus apa? Akan ada kembang kembang api sana sini?"

"Lebih dari itu Al" ucap Andry.

3, 2, 1 teriak semua orang secara bersamaan. Dan kembang api menyeruah penuhi langit. Jembatan Suramadu menjadi dua kali lipat indahnya.

"Happy new year Ale" ucap Kev lalu mengecup pipiku. Disaat yang besamaan aku seperti mendengar Andry mengatakan sesuatu yang aku sendiri tak yakin apa bunyinya. Karena di sini terlalu ramai.

Setelah itu pulanglah kami dengan diam masing masing. Aku yang masih shock mendapat kecupan dari Kev. Dan Andry, tidak tahu.

Ini Cinta, atau Apa? #3

Andry sudah mulai berubah. Sejak insiden acara tahun baru dua bulan lalu. Dia menjadi dingin. Tidak mau mengajakku bicara lebih dulu. Menjadi lebih sering mengunci pintu kosnya.

"Ale.." pintu kosku di ketuk.

Kev pikirku. Ah iya, Kev adalah atasanku. Benar, sejak Andry menyaranku untuk belerja, beberapa hari setelahnya aku memutuskan untuk mencari pekerjaan. Dan aku diterima bekerja oleh Kev di cafe milinya. Dia atasan yang baik. Tinggi dan tampan, sempurna sebagai sosok laki-laki.

Aku berdiri, berjalan arah pintu. Dan benar ku dapati Kev di balik pintu, sudah dengan senyum khasnya yang manis.

"Kev? Ada apa? Bukankah ini jadwal untuk aku libur?"

"Mau jalan?" Tawarnya singkat.

"Kemana?"

"Ganti bajulah, nanti juga akan tahu"

Kupikir memang lebih baik jika aku merefresh otak, supaya tidak hanya Andry yang berkeliaran di dalamnya.

"Baiklah, tunggulah sebentar"

"Lamapun aku tetap tunggu" tetap dengan senyum khasnya yang manis.

Selasa, 23 Desember 2014

Ini Cinta, atau Apa? #2

"Kau tak ingin bekerja Al?" 

Aku tidak menyangka akan mendengar pertanyaan semacam ini.

"Apa aku harus bekerja, dry?"
"Menurutku begitu"
"Kenapa?"
"Kau tak bisa selamanya mengandalkan kakakmu Al. Kaupun harus benar-benar bisa menghidupi dirimu sendiri. Setidaknya bukan untuk mencari uang, tapi untuk mencari pengalaman. Aku yakin dengan kau mencoba bekerja, kau akan bisa belajar banyak tentang hidup"

Aku tak terlalu memerhatikan kalimatnya. Aku terlalu lapar. Tapi sedikit banyak aku mengerti maksudnya. Andry benar aku harus segera mencari kegiatan baru, bekerja? Itu ide yang bagus.

"Tumben Om ini pintar sekali" gurauku. Biar sekalian kugoda saja. Haha

"Aih, berapa kali aku harus bilang? Aku ini masih muda, masih 23 tahun kau tau? Menyebalkan"

"Haha tetap saja lebih tua dariku. Bweee" aku menjulurkan lidah dan berlari meninggalkannya. "Terimakasih traktirannya. Aku ke kos duluan" teriakku di sela lari. Kutengok kearahnya, dia hanya geleng geleng dan menggerutu kesal. Haha.

Aku duduk di beranda. Sudah pukul 08.30 malam. Dan orang tua itu belum kembali. Kemana saja, apa mungkin dia tersesat? Aih, aku hampir memutuskan untuk masuk kamar dan berhenti menungguinya.

"Woy Ale si anak kecil belum tidur?" Teriak Andry dari arah jam 11.

"Belum aku hanya ingin pastikan orang tua sepertimu dapat sampai kosan dengan selamat. Aku takutnya kau pikun, dan lupa alamat kosmu"

"Sialan kau ya" dia berlari menuju arahku, dan sebelum aku berhasil selamatkan diri, aku tertangkap duluan. Sial.

"Aih rasakan ini. Rasakan ini. Rasakan ini" mengacak acak rambut. Menggelitiki perut. Ah aku akan mati sia sia jika tidak segera berteriak ampun. Jadi kuputuskan menyerah saja.

"Ampun. Aku kalah. Haha geli geli. Lepaskan"
"Haah akhirnya menyerah juga. Uih mengerjaimu apa harus secapek ini? Uih"
"Haha kau benar-benar pantas disebut pak tua, sebegitu saja sudah capek. Bwee" dan sebelum aku kena lagi aku segera lari dan memasuki kamar.

"Ey.. curang kau ya" teriaknya samar. Akupun putuskan untuk tidur saja.

Senin, 22 Desember 2014

Ini Cinta, atau Apa? #1

Aku mengintip hujan lewat celah sempit yang ku buat sendiri pada jendela. Tidak terasa sudah setangah tahun aku habiskan hari di kota pahlawan ini. Aku Alyce Lang, orang di sekitarku panggilku Al atau Ale. Ibuku orang Inggris. Ayahku orang China. Meski begitu aku jarang sekali berada di Inggris atau di China. Aku lebih sering berkeliaran di Bogor dan Bekasi. Ah ya, aku lebih mirip ayahku; kulit putih, mata sipit, kalian taulah perawakan orang China. Aku, seperti itu. Orang tuaku telah tiada semua. Ibu berpulang tiga tahun lalu. Sedangkan ayah menyusul ibu dua tahun setelahnya; ya, ayah berpulang baru-baru ini. Sekarang aku hidup sendiri, tinggal di salah satu kos umum di kota Surabaya. Aku memiliki kakak, dia sudah miliki keluarga sendiri, jadi aku memang harus hidup sendiri bukan?.

"Kau tak apa jika harus tinggal sendiri Al?" Ucap kakakku kala itu.
"Tak apa kak. Aku juga bisa belajar mengenai hidup bukan?" Jawabku.
"Tapi kau baru 18 tahun"
"Lantas kenapa? Biarlah kak, toh usia bukan menjadi batas ukuran lagi. Biar ku coba"
"Baiklah. Tapi kau harus janji akan kabari kakak bila ada masalah. Kakak akan kirimimu uang setiap bulan. Kau ingin kuliah? Nanti biar kakak bantu urus"
"Tentu kak akan ku kabari jika aku perlu bantuan. Mengirimiku uang bulanan kan memang menjadi tugasmu. :p tidak aku tidak ingin kuliah. Aku ingin bebas saja"
"Baiklah kalau begitu. Kau mau tinggal dimana? Di rumah ayah dan ibu?"
"Tidak. Kakak saja yang tempati rumahnya. Aku mau kos saja. Aku ingin ke Surabaya"
"Kau serius Al? Itu jauh sekali"
"Justru itu kak, aku ingin benar benar memulai hidupku yang baru"
"Haahh.. aku bisa apa? Kau selalu saja seperti ini jika berkeinginan"

Haha setelah mengingat percakapan beberapa bulan yang lalu itu aku menjadi rindu kakak. Apa kabar dia saat ini. Kenapa belum kirimiku uang untuk tahun baru. Ahh aku jadi lapar.

Akupun memutuskan untuk akhiri segala jenis lamunan yang melintas. Kulihat hujan sudah mereda. Aku keluar kamar menuju kamar sebelah. Mengetuk pintu satu kali lantas masuk tanpa harus dikomando si pemilik kamar. Mencari tempat untuk merebahkan diri.

"Ah kau, selalu saja seperti ini"
"Hehe" Aku nyengir saja.
"Ada apa?" Tanyanya sembari mengambil tempat di dekatku.
"Aku lapar dry"

Andry adalah tetangga kos ku. Dia lah orang pertama yang ku kenal setibanya aku di Surabaya. Dia pemuda yang baik menurutku. Usianya 23 tahun, dia bekerja di sebuah perusahaan swasta. Entahlah aku tak terlalu mengerti juga. Yang pasti dia orang yang bisa ku andalkan dalam segala hal belakangan ini.

"Lalu?"
"Lalu apanya? Kakakku belum kirimiku uang. Aku minta traktir" memasang muka semanis yang ku bisa.

Sebenarnya aku tentu saja miliki uang. Aku hanya ingin mengerjainya saja.

"Ah kau ini. Baiklah ku traktir. Mie ayam depan yak" jawabnya kemudian.
"Ok" aku mengangguk angguk senang.

Melepas Lalu #End

-- Kepada Gesang

Selamat petang lelaki dengan seribu kemampuan merayu; meluluh lantakan hati. Kabarmu selalu baik bukan? 
Ah iya selamat ulang tahun. Beberapa hari yang lalu kau bertambah usia bukan? Entahlah aku masih ingat saja. Haha. 
Bagaimana kabar wanitamu yang baru? Lebih baik dariku? 
Gesang, rindukah kau dengan omelku? Jujur saja aku rindu sekali dengan segala bentuk omelmu. Aku rindu kau larangku ini itu. 
Gesang, sudah lama sekali bukan aku tak mengganggumu dengan tulisan panjang seperti ini. Biar ku tebak kau masih tak suka membaca, sama seperti dulu? Benar?
Gesang, ingatkah? Kau selalu mengeluh ketika aku kirimkan deret kata yang panjang padamu. "Aku malas membacanya sayang" itu kalimat balasmu. Waktu begitu cepat berlalu ya, Ge.
Ah iya alasan aku menulis ini; selain rindu padamu aku juga ingin kabarkan, bahwa aku bahagia Gesang! Setelah lalui segala proses yang kaupun sendiri pasti sadar betapa melelahkannya; akhirnya aku jatuh pada lelaki baru. Dia lelaki yang teramat baik, hampir sama denganmu. Sungguh, betapa dia mampu mengertiku Gesang. Meski dia tahu benar namamu masih saja diteriakkan pelan oleh hatiku. Tapi tetap saja, dia cintaiku tulus. Dia manusia tepat untuk gantikan posisimu bukan?
Aku senang Gesang. Bulan depan kami akan menikah. Bagaimana? Kaupun sama senangnya denganku bukan?
Gesang, kau sudah mulai lelah membaca ini? Baiklah ku sudahi saja, ekspresi lelahmu sudah cukup membuatku terbahak saat ini.
Gesang, selalulah bahagia. Aku tahu Tuhan begitu sayang padamu, hingga kaupun disuruhnya pulang dan meninggalkanku.

Gesang...
Aku bahagia,

Tertanda, Pita.

-- aku melipat kertas suratku, serupa perahu, lantas ku hanyutkannya di danau tempat kami menghabiskan waktu; dulu.

Hpku berdering, Mara yang menelfon. "Sayang, kau dimana?" Bunyi suara di seberang sana.

"Aku di danau. Dekat taman biasa" 

"Baiklah aku akan menjemputmu. Kau tak lupa hari ini kita harus pastikan gaun pengantin bukan?"

"Tentu saja, mana mungkin aku lupa sayang" Sambungan terputus.

Akupun beranjak berdiri. Kuputuskan menunggu jemputan Mara di gerbang taman saja. Dan kepada masa lalu karam itu, aku benar-benar telah melepasmu. Ah iya juga kepada senja dan hujan, maaf aku membagi cintaku lagi; pada Mara.

Tamat.

Melepas Lalu #3

Minggu minggu berlalu setelah perkenalan aneh itu, aku dan Mara entah saja menjadi begitu dekat. Dia pendengar yang baik. Perhatiannya luar biasa. Dia orang yang tepat untuk di cintai, menurutku.

"Pita! Maaf sudah membuatmu menunggu"

Aku memang telah menunggunya semenjak tadi. Tapi tak masalah, lagi pula aku juga suka tempat ini. Aku mencecap kopiku sedikit. "Tak apa, lagipula aku tak terlalu lama menunggu. Duduklah"

"Ada apa? Kau sudah merindukan ketampananku?" Ucapnya sembari tertawa.

Pun aku ikut tertawa kecil. Mara memang selalu begitu, terlalu PD. "Mara seriuslah sedikit. Ini tentang ucapanmu kemarin senja di taman"

"Pita, bila kau masih belum tau akan jawab apa. Jawablah nanti saja, saat kau sudah benar-benar tau akan jawaban terbaiknya. Takusah kau paksakan"

Aku diam, masih menyusun kalimat jawab untuk kalimatnya barusan.

"Pita, aku tau kau masih begitu mencintai Gesang. Hatimu masih sering teriakkan pelan nama itu, aku tau. Jujur saja aku iri. Dan tentang percakapan kita kemarin senja itu aku tak bohong. Aku tetap ingin habiskan sisa tawa dan tangisku denganmu"

Aku mutlak diam. Bibirku tak lagi mampu berucap kata. Pipiku basah.

"Jangan menangis, aku tak suka" ucap Mara sembari menyeka tangisku.

Bersambung...

Minggu, 30 November 2014

Bunga Untukmu, #4

Bukk. Ku rebahkan diri pada kasur. Memandang langit langit kamar sejenak, kemudian beralih pada satu bingkai, berlukis wanita anggun dengan dress selutut beserta senyum sejuk. "Bi, beberapa hari ini aku bertemu dengan wanita lain. Namanya Hana. Pertemuan ini terasa aneh Bi. Aku bingung".

Sumpah demi apapun aku belum bisa mengerti kenapa aku dipertemukan dengan wanita aneh bernama Hana itu. Dia sebutku pecundang dan aku tetap mau mengantarnya pulang. Menuruti maunya untuk menikmati senja. Lantas mau membalas ciumnya. Aih debarnya masih terasa hingga kini. Dalam sehari dia bisa ciumku tiga kali. Pergaulan yang bagaimana yang dianutnya selama ini.

"Bang, kau sudah pulang?"
"Ada apa?"
"Bunga yang kau pesan seperti biasanya sudah datang"
"Ambilkan untukku dek"
"Uangnya?"
"Masuklah"

Pintu bergerak mundur, adikku muncul setelahnya. Mukanya cemberut.

"Hei dek kenapa cemberut seperti itu?"
"Kenapa tidak ambil sendiri saja sih bang"
"Haha, sekali kali tak apalah ambilkan bunga untuk mbak Bintang"
"Kembaliannya untukku ya? Hehe"
"Baiklah, iya"

Adikku pun berlalu, tak lama kembali datang dengan setangkai bunga pada genggamnya.
"Ini bungamu hari ini mbak Bintang" diletakkannya setangkaian itu pada depan bingkai yang kupandangi tadi.

"Aih, kau manis sekali. Tapi bukankah itu tugasku?"
"Dan sekali kalipun tak apa jika aku yang sekalian berikan bunganya pada mbak Bintang, bukan?"
"Dasarr.. pergi sana"
"Haha, iya bang iya"

Bi, aku lelah sekali. Masa bodo dengan hadirnya Hana. Biar saja Tuhan yang atur jalannya. Selamat malam Bi, 

Bersambung...

Bunga Untukmu, #3

Bibir kami saling lepas, cumbuan berakhir. Pandangku kembali jelas setelah beberapa detik berlalu. Kurasa ada yang aneh pada dadaku sendiri. Detaknya kian menit kian tak karuan. "Kuasai diri, kuasai diri" teriak batin pada diri sendiri. Ku lirik wanita di sampingku, dia biasa saja. Kejadian barusan seperti tak pernah ada. Rautnya tetap tenang, bahkan lebih tenang dari sebelum tadi.

"Ga, pulang sekarang?"
"He?" Sebenarnya aku ingin berkata "Boleh" namun debar hebat pada dada hanya sukses luncurkan kata "He" terucap.
Hana memicingkan alisnya "Kau baik saja Ga?"
"Tentu saja, memang aku kenapa? Ayo kuantar pulang" ucapku setelah berhasil kuasai diri, dengan susah payah.
"Ok" lantas duduk di belakang kemudi; aku.

Rumah Hana lumayan jauh, kami tiba pukul setengah delapan malam.

"Thanks Ga. Mampir dulu?" Rona wajahnya berbeda, seperti bahagia namun entahlah. Bodo amat saja.
"Lain kali deh, udah malem balik dulu aja"
"Kenapa buru-buru begitu?"
Aih harus kujawab apa. "Aku ingin segera mandi Han, badanku lengket semua"
"Kalau begitu mandi di sini saja"
"Tidak terimakasih. Aku lebih senang mandi di rumah sendiri. Aku balik sekarang?" Kupicingkan alisku saja sebagai tanda aku ingin segera pulang. Semoga Hana termasuk wanita yang peka.
"Ok, Baiklah. Hati-hati di jalan Ga" kecupan itu mendarat lagi di pipiku, ahh wanita ini senang sekali menciumiku. Aku pun berlalu, meninggalkannya di belakang.

Hari ini melelahkan sekali. Aku harus menerka banyak hal mengenai Hana. 

Bersambung...

Jumat, 28 November 2014

Rindu

Aku diam dengan secangkir kopi di hadap. Lelakiku pun demikian. Senja masih tetap anggun dengan semburat kemerahannya, seperti biasa.

"Li, kau marah padaku?" Ucapnya memecah diam.
"Tidak"
"Lantas, kenapa sedari tadi diam? Kau tak ingin tumpahkan rindumu padaku? Kurasa dua bulan kita berjauhan cukup dijadikan alasan bagi kita untuk merindu."

Ada semburat kecewa di raut tampannya. "Na, aku ke toilet sebentar. Jangan pergi, tetaplah tunggu aku." Dan sebelum sempat dia bicara lekaslah aku berdiri, berjalan menuju toilet.

"Lama sekali," Ucapnya, sekiranya aku tiba di meja.
"Na, aku baru pergi lima belas menit dari dekatmu. Dan itu kau bilang lama? Tak usah cemberut, mukamu tak tampan lagi jika begitu."
"Na, tahukah betapa aku merindumu? Hingga akupun tak tahu harus bertingkah seperti apa waktu ini. Aku senang Na, aku senang bisa lihat kau lagi--" Tandasku.
"Li.."
"Diamlah Na, biarkan aku saja yang bicara"
"Baiklah.."
"Na, tahukah dua bulan ini Namamu ku sebut empat kali lebih sering dari biasanya dalam setiap doa. Ku baca setiap puisi yang kau tulis menjelang aku terlelap. Berharap rinduku bisa reda setidaknya sedikit. Namun nyatanya kian gebu. Na, aku rindu sekali. Penasarankah atas diamku tadi?" Ucapku sembari menyeka ujung mata kanan dan kiri.
"Li? Kau baik saja? Memang kenapa kau diam saja tadi? Ku pikir ada sikapku yang keliru."
"Aku baik Na, diamku tadi adalah proses mencairnya segala rindu yang selama dua bulan ini dingin membeku"
"Li peluklah aku, aku pun begitu rindu pelukmu" pintanya kemudian.

Kami pun berpelukan, lama lama selama rindu kami habis menetes.

"Li, bangun. Kenapa malah tidur di kelas?" Teriakan hancurkan mimpi.

.......

"Na, kapan kau kembali, mendekapku dalam gigil rindu yang semakin gebu."

Kamis, 27 November 2014

Melepas Lalu #2

"Nona, nona!" Teriakan sadarkanku dari lamunan. "Ya?" Sahutku singkat.

"Ini ponselnya, terimakasih" ucapnya kemudian

"Iya, namamu tadi siapa?" Aaakk bodoh kenapa ku tanyakan ini.

"Mara nona. Nona sendiri?"

"Pita"

Kami pun membincangkan banyak hal. Tentang hidupnya, juga hidupku. Mara menyenangkan juga tentusaja tampan.

"Pita, sudah gelap ayo kuantar pulang. Rumahmu di dekat sini kan?"

"Eh? Bagaimana bisa tau?"

"Kau tau aku adalah peramal sebenarnya. Jangan kaget"

Ku picingkan mata lantas memukul lengannya. "Dasaarrr.."

"Hahaha" tawa yang menambah kadar manisnya sukses membuatku beku.

"Pita! Yee malah bengong" tambahnya.

Dan hari ini aku diantar pulang oleh Mara. Aku ingat sekali saat berada tepat di depan pintu, dan sebelum dia pergi, dia teriakkan kalimat "Pita, tadi sudah ku hubungkan pin mu pada pin ku. Jika kangen bbm saja." Lantas hilanglah dia ditelan jalanan seberang. "Jadi anak itu meminjam ponselku hanya untuk hubungkan pin bbm, dasaarr!!" Dan aku menutup pintu.

Bersambung...

Melepas Lalu #1

Terpuruk itu aku, oleh kenangan lalu yang enggan hilang. Aku masih sendiri. Tidak tahu, rasanya malas saja memulai hubungan baru dengan manusia yang baru pula. Biar saja senja yang jadi kekasihku dan hujan jadi yang kedua. Aku tengah berada di tempat favorite ku, tempat dimana aku selalu habiskan sore dengan senja. Bangku taman dekat pohon rindang. Seperti biasa ku pejamkan mata untuk legakan nafas lepaskan segala penat jiwa yang menumpuk sejak pagi.

"Nona, boleh saya pinjam ponselnya?"

Dan demi mendengar bunyian kalimat itu, mau tak mau aku harus membuka mata. Dan ku dapati lelaki berada depanku dengan wajah yang aneh. Manis? Ya sedikit, dan dia cukup  tampan. Ku picingkan mata lantas menjawab. "Harus kupinjamkan ponselku pada orang yang tak ku kenal?" Orang itu diam, tengah menyusun kalimat yang entah jadinya bagaimana.

"Namaku Mara nona, sekarang bolehkah aku pinjam ponselnya?"

"Bodoh. Aakk baiklah ini, pakai dekatku saja. Duduklah di sebelah sini" aku menunjuk tempat kosong di sebelahku. Dia mengiyakan dan tak lama sudah sibuk dengan ponsel milikku. Dia berhasil palingkanku dari senja. Tuhan kenapa dia manis sekali! Jeritku pada hati.

Bersambung....

Rabu, 19 November 2014

 "Bi, bila telah libur nanti kau ingin kemana?"

Bintang diam mendengar pertanyaan Bastian. Nampak berpikir, tak lama kemudian berseru.

"Bas! Aku tahu aku ingin kemana."

"Kemana Bi?"

"Lombok, Bas. Gili." ucap Bi dengan senyum mengembang— tampak lucu, menggemaskan.

"Kenapa Lombok?"

"Kau tahu aku suka senja?" Sekali lagi Bintang tersenyum

"Aku kekasihmu sayang, mana mungkin aku tak tahu."

"Aku pernah baca Bas, Gili tempatnya indah. Aku ingin sekali menikmati senja di sana. A... pasti akan indah sekali jika aku menikmatinya berdua denganmu." Bi memeluk kekasihnya manja.

"Liburan ini kita ke Lombok." Bas memainkan jemarinya di rambut sebahu milik Bi.

"Serius, Bas?" Bi menatap Bas dengan muka lucunya.

"Iya sayang" Bas mencubit hidung kekasihnya, dan mereka tertawa bersama, dalam peluk.

— Bas, aku senang bersanding denganmu. Kau selalu lakukan apapun yang ku ingin. Pendapatku selalu kau tampung. Setiap mimpi kecilku selalu kau bantu wujudkan. Bas, aku bahagia sekali. (Pikir Bi di sela tawa)